Hal-hal yang Harus Diketahui Setiap Muslim tentang Masjidil Aqsha*
PONTIANAK,JUMAT 15 MEI 2015:
oleh
Syaikh Abu Abdirrahman Hisyam Al-Arif Al-Maqdisi
Membicarakan tanah Palestina, tentu tidak bisa dilepaskan dengan
keberadaan Masjidil Aqsha yang penuh berkah ini. Terdapat banyak
nash yang secara jelas menunjukkan keutamaan masjid ini.
MASJID MANAKAH YANG DIBANGUN PERTAMA KALI DI MUKA BUMI?
Dari Abu Dzar
Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata
“Aku bertanya, “Wahai, Rasulullah. Masjid manakah yang pertama kali
dibangun?” Beliau menjawab, ‘Masjidil Haram”. Aku bertanya lagi :
Kemudian (masjid) mana?” Beliau menjawab, “Kemudian Masjidil Aqsha”. Aku
bertanya lagi : “Berapa jarak antara keduanya?” Beliau menjawab, “Empat
puluh tahun. Kemudian dimanapun shalat menjumpaimu setelah itu, maka
shalatlah, karena keutamaan ada padanya”. Dan dalam riwayat lainnya :
“Dimanapun shalat menjumpaimu, maka shalatlah, karena ia adalah masjid”
[HR Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Dzar]
KEUTAMAAN SHALAT DI MASJIDIL AQSHA
Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash, dari
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda.
“Sesungguhnya , ketika Sulaiman bin Daud membangun Baitul Maqdis, (ia) meminta kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala tiga perkara. (Yaitu), meminta kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala agar (diberi taufiq) dalam memutuskan hukum yang menepati hukumNya, lalu dikabulkan ; dan meminta kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala dianugerahi kerajaan yang tidak patut diberikan kepada seseorang setelahnya, lalu dikabulkan ; serta memohon kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala
bila selesai membangun masjid, agar tidak ada seorangpun yang
berkeinginan shalat disitu, kecuali agar dikeluarkan dari kesalahannya,
seperti hari kelahirannya.” (Dalam riwayat lain berbunyi : Lalu Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata : “Adapun yang dua, maka telah diberikan. Dan saya berharap,
yang ketigapun dikabulkan).” [Hadits ini diriwayatkan An-Nasa’i, dan ini
lafadz beliau, Ahmad dalam
Musnad-nya dengan lebih panjang lagi. Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al-Haakim dalam kitab
Mustadrak dan Al-Baihaqi dalam kitab
Syu’abul Iman, serta selain mereka]
Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata.
“Kami saling bertukar pikiran tentang, mana yang lebih utama, masjid Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau Baitul Maqdis, sedangkan di sisi kami ada Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda : “Satu shalat di masjidku lebih utama dari empat shalat
padanya, dan ia adalah tempat shalat yang baik. Dan hampir-hampir tiba
masanya, seseorang memiliki tanah seukuran kekang kudanya (dalam riwayat
lain : seperti busurnya) dari tempat itu terlihat Baitul Maqdis lebih
baik baginya dari dunia seisinya.” [HR Ibrahim bin Thahman dalam kitab
Masyikhah Ibnu Thahman, Ath-Thabrani dalam kitab
Mu’jamul Ausath, dan Al-Hakim dalam kitab
Al-Mustadrak,
Al-Hakim berkata, “Ini adalah hadits yang shahih sanadnya, dan
Al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya. Adz-Dzahabi dan Al-Albani
sepakat dengan beliau.]
Hadits ini adalah hadits yang paling shahih tentang pahala shalat di
Masjidil Aqsha. Hadits ini menunjukkan, shalat di Masjid Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti empat shalat di Masjid Aqsha. Pahala shalat di Masjidil Aqsha setara dengan 250 kali (di masjid lainnya).
Syaikh kami (Al-Albani) dalam kitab
Silsilah Shahihah (2902) mengatakan : “Hadits yang paling shahih tentang keutamaan shalat di sana (Masjidil Aqsha) adalah hadits Abu Dzar
Radhiyallahu ‘anhu,
beliau berkata : Kami saling bertukar pikiran tentang, mana yang lebih
utama, masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau Baitul
Maqdis, sedangkan di sisi kami ada Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Satu shalat di masjidku lebih utama dari empat shalat padanya, dan ia adalah tempat shalat yang baik….”
Hadits ini termasuk bukti kenabian
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Yaitu berita bahwa seseorang berangan-angan memiliki tanah meskipun
sedemikian sempit, asalkan dapat melihat dari dekat Baitul Maqdis dari
tanahnya tersebut.
JANGAN BERSUSAH PAYAH BEPERGIAN, KECUALI MENUJU TIGA MASJID
Dari Abu Hurairah
Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
“Dari Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :
“Tidak boleh bersusah-payah bepergian, kecuali ke tiga masjid, (yaitu)
Masjidil Haram, Masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan
Masjidil Aqsha” [HR Al-Bukhari dan Muslim]
I’TIKAF DI MASJIDIL AQSHA
Dari Abu Wa’il
Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata.
“Hudzaifah bin Al-Yaman berkata kepada Abdullah bin Mas’ud ;
“I’tikaf antara rumahmu dan rumah Abu Musa tidak masalah [3], padahal
aku mengetahui bahwa Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah bersabda, ‘Tidak ada i’tikaf kecuali di tiga masjid’, Abdullah bin
Mas’ud menjawab, “Mungkin engkau lupa sementara mereka hafal. Engkau
salah dan mereka benar” [HR Al-Baihaqi dalam kitab
Sunan Al-Kubra dan Ath-Thahawi dalam kitab
Al-Musykil, serta Al-Ismail dalam kitab
Al-Mu’jam. Hadits ini terdapat di dalam kitab
Silsilah Ash-Shahihah no. 2786 dan beliau berkata, ‘Shahih atas syarat Syaikhan (Al-Bukhari dan Muslim)].
Syaikh kami (Al-Albani) berkata : Pernyataan Ibnu Mas’ud bukanlah
untuk menyalahkan Hudzaifah dalam periwayatan lafadz hadits ini. Namun
tampaknya beliau menyalahkan Hudzaifah dalam pengambilan hukum (
istidlal)
i’tikaf yang diingkari Hudzaifah, karena ada kemungkinan pengertian
hadits menurut Ibnu Mas’ud adalah tidak ada i’tikaf yang sempurna,
seperti sabda Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Tidak ada iman yang sempurna bagi orang yang tidak memiliki amanah,
dan tidak ada agama yang sempurna bagi orang yang tidak menepati
janjinya”
KEMAKMURAN BAITUL MAQDIS
Dari Mu’adz bin Jabal
Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata.
“Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Pembangunan menyeluruh [4] Baitul Maqdis adalah waktu kerusakan [5]
Madinah, dan kerusakan Madinah adalah waktu keluarnya
Malhamah
(perang), dan keluarnya Malhamah adalah waktu penaklukan Konstantinopel,
dan penaklukan Konstantinopel adalah waktu (dekat) keluarnya Dajjal”,
kemudian beliau memukul paha atau bahu orang yang diajak bicara dengan
tangannya, seraya bersabda, “Ini sungguh sebuah kebenaran sebagaimana
benarnya kamu disini, atau sebagaimana kamu duduk, yaitu Muadz bin
Jabal.” [HR Ahmad, Abu Dawud, Ali bin Al-Ja’d, Abu Bakar bin Abu Syaibah
dan lainnya]
MASJIDIL AQSHA TIDAK DIMASUKI DAJJAL
Dari Mujahid, beliau berkata :
“Kami dipimpin Junadah bin Abi Umayyah selama 6 tahun; beliau bangkit dan berkhutbah, lalu berkata:
Kami pernah mendatangi seorang sahabat Rasulullah dari Anshar. Kami
menemuinya dan berkata: “Sampaikanlah kepada kami apa yang pernah engkau
dengar dari Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
jangan sampaikan apa yang engkau dengar dari orang-orang,” lalu kami
memaksanya untuk itu. (Dalam riwayat lainnya: dan jangan sampaikan
kepada kami dari selain beliau, walaupun benar)
Maka ia pun berkata: “Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
berdiri dan berkata :’Aku peringatkan kalian dari Al-Masih (Dalam
riwayat lain: “Aku peringatkan kalian dari Dajjal”, sebanyak tiga kali),
karena tidak ada seorang nabipun sebelumku, kecuali memperingatkan
umatnya dari Dajjal, dan Dajjal itu muncul pada kalian, wahai umatku.
Dia itu berambut keriting, matanya buta sebelah (Dalam riwayat lain:
buta sebelah kirinya).
Ia berkata : ‘Saya yakin beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata sebelah kiri. Berjalan bersamanya bukit roti dan sungai air
(Dalam riwayat lain: Bersamanya syurga dan neraka. Neraka dia adalah
syurga, dan syurga dia adalah neraka. Ia dapat menurunkan hujan dan
tidak bisa menumbuhkan pohon. Dia diberi kekuasaan atas satu jiwa, lalu
membunuhnya dan menghidupkannya, dan tidak diberi kekuasaan pada
selainnya).
Tanda-tandanya : Dia tinggal di bumi ini selama 40 hari, kekuasaannya
mencapai semua tempat, namun ia tidak dapat mendatangi empat masjid,
Masjid Ka’bah, Masjid Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Masjid Al-Aqsha dan Masjid Ath-Thur. Walaupun demikian, namun ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak buta sebelah’.
Ibnu ‘Aun berkata : Saya yakin beliau telah berkata : “Dan ia
(Dajjal) diberi kekuasaan atas satu jiwa lalu membunuhnya dan
menghidupkannya, dan tidak diberi kekuasaan pada selainnya’.” [HR Ahmad
dalam
Musnad-nya, 5/364 dan sanadnya shahih atas syarat
Syaikhan (al Bukhari dan Muslim)]
Pelajaran Hadits:
Hadits ini tidak kontradiktif, dan tidak ada masalah dengan hadits yang shahih dari Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
yang menjelaskan Dajjal telah menginjakkan kakinya di seluruh muka bumi
dan menguasainya, kecuali Makkah dan Madinah. Tidaklah ia memasukinya
dari salah satu pintunya, kecuali bertemu dengan para malaikat yang
menghunus pedang-pedangnya… (Al-Hadits).
Dalam hadits ini terdapat tambahan keterangan, pengkhususan
masjid-masjid yang tidak dimasuki Dajjal. Dajjal –semoga Allah
melindungi kita dari fitnahnya- walaupun memasuki daerah bukit Thursina
dan Baitul Maqdis, namun ia tidak bisa memasuki kedua masjidnya. Dajjal
juga tidak bisa masuk ke Makkah dan Madinah, maka lebih lagi masjidnya.
Wallahu a’lam.
YA’JUJ WA MA’JUJ DAN BUKIT BAITUL MAQDIS
Dari Nawas bin Sam’an, beliau berkata :
Pada suatu hari Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjelaskan tentang Dajjal. Beliau menganggap remeh dan (juga)
menganggap perkara besar, sehingga kami merasa yakin ia (Dajjal) berada
di sisi sekumpulan pohon kurma. Ketika kami pergi kesana, maka beliau
tahu ada sesuatu pada kami. Beliau bertanya, “Ada apa kalian?”
Kami menjawab, “Wahai, Rasulullah. Tadi pagi engkau telah menjelaskan
tentang. Engkau telah menganggap remeh dan menganggap besar perkaranya,
hingga kami merasa yakin ia (Dajjal) berada di sisi sekumpulan pohon
kurma.”
Maka beliau bersabda: “Bukan Dajjal yang membuatku takut atas kalian.
Apabila ia keluar (muncul) dan aku ada bersama kalian, maka akulah yang
akan membantahnya tanpa bantuan kalian. Dan bila ia keluar, sedangkan
aku tidak ada bersama kalian, maka setiap orang membantah (melawan)
sendiri-sendiri; sedangkan Allah menjadi pelindung setiap Muslim.
Sungguh Dajjal adalah seorang pemuda berambut keriting dan buta sebelah.
Seakan-akan aku menyerupakannya dengan Abdul ‘Uzza bin Qathan.
Barangsiapa di antara kalian mendapatkannya, maka bacakan kepadanya
awal-awal surat Al-Kahfi. Dia keluar di jalan antara Syam dan Iraq lalu
membuat kerusakan di sekitarnya. Wahai hamba Allah, istiqamahlah!”
Maka kami berkata: “Wahai Rasulullah, berapa lama tinggalnya di muka bumi ini?”
Beliau menjawab,”Empatpuluh hari. Satu hari seperti satu tahun. Satu
hari seperti satu bulan. Satu hari seperti satu pekan, dan sisa harinya,
seperti hari-hari kalian ini.”
Kami bertanya lagi: “Wahai, Rasulullah. Hari yang seperti satu tahun itu, apakah cukup bagi kami shalat sehari?”
Beliau menjawab: “Tidak! Perkirakan ukurannya!”
Kami bertanya lagi: “Berapa kecepatannya di bumi ini?”
Beliau menjawab: “Seperti hujan ditiup angin, lalu (ia) mendatangi
satu kaum dan mengajak mereka, lalu mereka mempercayainya dan menerima
ajakannya. Kemudian Dajjal menyuruh langit, dan langitpun menurunkan
hujan. Dan menyuruh bumi, lalu bumi menumbuhkan tanaman. Lalu hewan
gembalaan mereka berangkat di sepanjang puncak gunung, sangat banyak
susunya dan makan sangat kenyang. Kemudian (ia) mendatangi kaum lainnya,
lalu mendakwahi mereka, namun mereka membantah perkataannya, lalu ia
(pun) pergi meninggalkan mereka. Lalu pagi harinya, mereka tertimpa
kelaparan dan kekeringan. Mereka tidak memiliki harta sedikitpun. Dajjal
melewati tempat yang rusak tersebut dan berkata kepadanya,’Keluarkan
simpananmu!’ Lalu keluarlah harta simpanan (tanah tersebut) seperti
ratu-ratu lebah. Kemudian Dajjal memanggil seorang yang gemuk dan masih
muda, lalu ia sembelih dengan pedang dan memotongnya menjadi dua
seukuran tombak, kemudian ia memanggilnya, lalu pemuda itu datang dan
wajahnya bersinar-sinar.
Ketika dalam keadaan demikian, tiba-tiba Allah mengutus Al-Masih Ibnu Maryam (Nabi ‘Isa), lalu turun di dekat menara putih (
Manarul Baidha’)
di sebelah timur Damaskus, mengenakan sepasang baju yang dicelup dengan
za’faran dan meletakkan kedua telapak tangannya pada sayap-sayap dua
malaikat. Apabila ia menggoyangkan kepalanya, maka meneteskan air; dan
bila mengangkat kepalanya, maka keluarlah dari air itu seperti batu
permata. Sehingga, tidaklah seorang kafir mencium wangi napasnya,
kecuali mati; dan napasnya itu sepanjang pandangannya. Lalu beliau
mengejar Dajjal sampai mendapatinya di daerah Bab Ludd [6], kemudian
membunuhnya.
Kemudian datang kepada Isa Ibnu Maryam suatu kaum yang Allah
selamatkan dari Dajjal, lalu beliau mengusap wajah-wajah mereka, dan
beliau sampaikan derajat mereka di surga. Ketika hal itu terjadi,
tiba-tiba Allah mewahyukan kepada Isa yang berisi: ‘Aku telah
mengeluarkan hambaKu, yang tidak ada seorangpun mampu memerangi mereka.
Maka, bawalah hamba-hambaKu berlindung ke bukit Thur’. Allah mengutus
Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka bergerak cepat (datang) dari segala arah,
sehingga rombongan pertama mereka melewati Danau Thabariyah lantas
meminum isinya. Kemudian rombongan terakhir mereka mengatakan : ‘Sungguh
dulu di tempat ini ada airnya’.
(Dalam riwayat lain : dan ada tambahan setelah perkataan : ‘Sungguh
dulu di tempat ini ada airnya. Kemudian mereka berjalan sampai mencapai
bukit al Khamar, yaitu bukit Baitul Maqdis. Lalu mereka berkata :
‘Sungguh kita telah membunuh orang yang ada di muka bumi ini. Ayo kita
bunuh yang di atas langit,’ lalu mereka melemparkan anak-anak panahnya
ke langit, lantas Allah kembalikan kepada mereka anak-anak panah
tersebut dalam keadaan berlumuran darah – dalam riwayat IbnuHujur-
Sungguh Aku telah menurunkan hamba-hambaKu, yang tidak ada seorangpun
mampu memeranginya). Dan mengepung Nabi ‘Isa dan sahabat-sahabatnya,
hingga kepala sapi banteng bagi salah seorang dari mereka lebih baik
dari seratus dinar bagi salah seorang di antara kalian sekarang.
Nabi ‘Isa dan para sahabatnya berdoa kepada Allah, lantas Allah
mengirim kepada mereka (Ya’juj dan Ma’juj) ulat di leher-leher mereka,
sehingga mereka semuanya terbunuh seperti kematian satu jiwa. Kemudian
Nabi ‘Isa dan para sahabatnya turun ke dataran bumi dan tidak
mendapatkan sejengkal tanahpun, kecuali dipenuhi oleh bau busuk dan
bangkai mereka.
Nabi ‘Isa dan para sahabatnya berdoa kepada Allah, lantas Allah
mengirim burung seperti onta berleher panjang, lalu mengangkut mereka
dan melemparkan mereka di tempat yang Allah kehendaki.
Kemudian Allah menurunkan hujan, yang tidak ada satupun rumah dari
kulit domba dapat menahannya, dan tidak juga rumah batu yang kokoh,
hingga mencuci bumi sampai meninggalkannya seperti cermin.
Kemudian dikatakan kepada bumi : “Tumbuhkan buah-buahan dan kembalikan barakahmu.”
Pada hari tersebut, sejumlah orang memakan buah delima dan bernaung
di bawah kulit-kulitnya, dan diberi barakah pada susu, hingga seekor
onta yang baru melahirkan mencukupi sejumlah orang, sapi yang baru
melahirkan (susunya) mencukupi satu kabilah, dan seekor kambing yang
baru melahirkan mencukupi sekeluarga besar.
Ketika mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba Allah mengirim angin
yang harum, lantas angin tersebut menarik mereka dari bawah-bawah ketiak
mereka, lalu setiap Mu’min dan Muslim wafat, dan tersisa orang-orang
yang jelek, yang berzina terang-terangan (di khalayak ramai) seperti
kelakuan keledai. Maka pada merekalah terjadi kiamat.” [HR Muslim]
Mudah-mudahan bermanfaat.*